Wajah Huo Tao menegang, rahangnya mengeras menahan amarah. Namun, ia menelan emosinya dalam-dalam. "Awas kau, Li Wei… Jika rencana keluargaku berhasil, kau akan jadi wanita pertama yang merasakan kekuatanku di ranjang. Tidak lama lagi kamu akan merasakannya."

Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun, tetapi tatapan matanya yang merah padam menunjukkan kemarahan yang membara. Tanpa menoleh lagi, ia berbalik dan pergi meninggalkan tempat itu.

Melihat kepergian Huo Tao, Li Wei segera mengenalkan kakak seperguruannya kepada Lynx dan Jelita.

"Ini Ling Mei, kakak seperguruanku dari Sekte Api Langit," ujarnya dengan nada bangga, meskipun ekspresi wajah Ling Mei tetap dingin. Kata Li Wei melanjutkan memperkenalkan kakak seperguruannya yang lain.

Tatapan Ling Mei tertuju pada Lynx, matanya menyipit tajam sebelum ia mendengus kecil dan membuang muka dengan ekspresi tak senang. Ia jelas masih mengingat pria ini, pria yang beberapa waktu lalu nyaris memeluknya dalam keadaan yang menurutnya mencurigakan.

Sementara itu, Jelita menatap Ling Mei dengan perasaan campur aduk. Wajah wanita di hadapannya ini memang serupa dengan Leena, kekasih Lynx, tetapi ada sesuatu yang membuatnya terasa berbeda. Tatapan matanya begitu tajam, penuh kewaspadaan, jauh dari kehangatan yang pernah ia lihat pada Leena. Raut wajahnya pun dingin, seolah tidak menyisakan sedikit pun kelembutan. Meski hatinya terusik oleh kemiripan ini, Jelita berusaha mengendalikan emosinya dan tetap berbicara dengan sopan.

"Nona Ling Mei, terima kasih atas bantuan sebelumnya. Anda sudah menolongku dari para penjahat yang berniat jahat kepadaku," ucap Jelita dengan nada tulus, meskipun ada sedikit getaran dalam suaranya.

Ling Mei menatap Jelita sekilas, tanpa menunjukkan perubahan ekspresi. Dia hanya mengangguk kecil, tubuhnya tetap tegap dan wajahnya tidak menampakkan sedikit pun ekspresi hangat. "Tidak masalah," jawabnya datar, lalu berbalik menuju Li Wei tanpa memberikan perhatian lebih pada percakapan

Namun, Li Wei justru tampak terkejut. "Bantuan? Berniat jahat? Apa yang terjadi?" Ia segera melangkah maju, menatap Jelita dengan khawatir. "Kamu baik-baik saja, kan? Kenapa kamu tidak mencariku agar aku bisa menghajar para penjahat itu? Lalu, di mana mereka sekarang?"

Matanya bergerak cepat, seakan mencari jawaban di wajah Jelita, tetapi kemudian tatapannya beralih ke Lynx. Dahi Li Wei berkerut dalam.

"Tapi… bukankah kamu bersama..." Kata-katanya terhenti, menatap Lynx dengan ekspresi penuh keheranan.

Li Wei berpikir,"aku masih ingat betapa kuatnya pria ini.  Dia mampu membunuh seorang kultivator tingkat Master Foundation hanya dengan satu serangan. Selain itu bukan hanya satu, tapi beberapa master foundation seolah bukan apa-apa baginya. Lalu bagaimana mungkin sesuatu bisa terjadi pada Yun Qing saat ia berada di sisinya? Apakah memang benar, dia menggunakan artefak dan sudah tidak bisa digunakan lagi seperti dugaan orang dari sekte kegelapan, Gao Zhen?"

"Sabar, Li Wei. Kamu terlalu banyak pertanyaan, aku jadi bingung harus menjawab yang mana lebih dulu," ujar Jelita sambil terkekeh, mencoba menenangkan suasana. "Panjang ceritanya..."

Dengan tenang, Jelita mulai menceritakan kejadian yang menimpanya. Bagaimana beberapa pria mencurigakan mencoba menangkapnya saat Lynx sedang pergi, bagaimana mereka menggunakan jarum beracun yang membuatnya tak sadarkan diri, dan saat ia akhirnya terbangun, sosok pertama yang dilihatnya adalah Ling Mei, yang sudah berdiri di depannya membawanya pergi dari tangan para penjahat. "Aku tidak tahu apa yang akan mereka lakukan terhadapku jika tidak ada nona Ling Mei yang menolongku."

Ling Mei mendengarkan tanpa banyak ekspresi, hanya sedikit tersenyum samar saat Jelita selesai berbicara.

"Saat itu aku sedang terburu-buru," katanya dengan nada datar, tangannya bersedekap. "Aku mencari Li Wei yang melarikan diri dari rumahnya. Begitu melihat rombongan dari sekte datang menjemputnya, dia langsung kabur. Dasar anak nakal."

Li Wei hanya meringis kecil, tapi tidak membantah.

Ling Mei melanjutkan, "Dia tidak ingin kembali ke sekte sebelum memastikan kondisi kakaknya terlebih dahulu. Dalam perjalananku mencarinya, aku melihat kelompok pria yang mau menculik seorang gadis. Jadi, karena aku tidak terlalu memahami masalahnya, aku hanya merebutmu dari tangan mereka."

Nada suaranya terdengar santai, seakan yang ia lakukan hanyalah tugas kecil yang tak berarti. Namun, bagi Jelita, kejadian itu meninggalkan kesan yang dalam.

"Kak Ling Mei, kamu sudah berjanji akan memberiku waktu satu minggu lagi, menunggu alchemist datang dari kerajaan dan membuatkan pil untuk kakakku, sehingga aku bisa melihat hasilnya."Kata Li Wei dengan manja, namun Ling Mei tetap diam.

Tatapan Ling Mei lalu kembali ke Lynx, kali ini tidak hanya sekadar dingin, tapi penuh ketidakpercayaan. "Dan kau..." ia berhenti sejenak, lalu mengalihkan pandangannya dengan mendengus pelan. "Lupakan saja."

Suasana di antara mereka pun menjadi lebih tegang sejenak.

Li Wei yang memiliki sifat tidak suka diam segera memecah kebekuan suasana, "Kita kesini untuk bersenang-senang melihat batu-batu roh, ayo kita lanjutkan sambil mencari yang menarik, iya kan Kak Ling Mei?" kata Li Wei sambil memeluk manja tangan Ling Mei.

Di sekte, Ling Mei menjadi salah satu sosok murid inti yang dikagumi dan disegani oleh para murid lainnya, dengan bakatnya yang tinggi, di usia muda sudah mencapai master foundation emas hitam, tinggal menunggu terobosan untuk dapat menaikkan levelnya.

Banyak murid yang segan terhadapnya, selain karena menjadi murid kesayangan para guru, Ling Mei juga terkenal tegas dan dingin, jarang berbicara. Namun, Li Wei yang terlalu aktif dan sering menerima hukuman darinya justru menjadi satu-satunya murid sekte yang paling dekat dengannya dan selalu bersikap manja dengannya, meskipun saat itu baru beberapa bulan Li Wei menjadi murid sekte.

Ling Mei pun terlihat lebih sering tersenyum ketika dia sedang bersama Li Wei, fenomena yang sangat jarang terjadi ketika dia bersama orang lain.

Ling Mei sedikit tersenyum dan melangkah mengikuti Li Wei yang berjalan sambil menarik lengan Jelita, sementara Lynx hanya diam mengikuti sambil memandang wanita di depannya.

"Leena, aku tidak bisa mengenali dirimu, apakah wanita yang di depanku ini adalah kamu?" batin Lynx, sambil menghela napas panjang. Dia sudah menggunakan mata tembus pandangnya untuk memperhatikan setiap lekuk tubuh wanita di depannya, namun tidak ada tanda lahir atau petunjuk apapun di tubuhnya yang bisa membuat Lynx mengenalinya.

"Andaikan waktu itu Leena tidak menggunakan ramuan kecantikan, tentu di tangannya masih ada tanda lahir merah, tapi sejak menggunakan ramuan itu, tubuhnya seolah dilahirkan kembali, sehingga tanda lahirnya menghilang," batin Lynx sambil berjalan dengan melamun.

"Aduh..." tiba-tiba Lynx menabrak seseorang. Karena melamun, dia tidak memperhatikan wanita di depannya yang berhenti. Dia menatap wajah wanita yang ditabraknya, namun hanya ekspresi dingin yang diterimanya dan tatapan tajam. "Maaf, aku tidak sengaja," katanya pelan.

Sementara itu, Ling Mei hanya diam. "Pria ini sangat aneh. Aku harus memperingatkan Li Wei untuk tidak terlalu akrab dengannya," batinnya.

"Wanita ini terlalu galak, sepertinya memang bukan Leena, selain itu kultivasinya terlalu tinggi, tidak mungkin Leena bisa berkultivasi secepat itu." batin Lynx sambil mengeluh, merasakan sikap wanita di depannya yang seolah membenci dirinya.

Di sisi lain, Ling Mei tetap diam, seolah tak terpengaruh oleh situasi di sekitar mereka. Ia tidak tertarik untuk menanggapi Lynx lebih lanjut, hanya mempertahankan ekspresi dinginnya. Di dalam hati, ia masih merasa ada sesuatu yang aneh dengan pria ini, meskipun ia tidak mengungkapkannya secara langsung.

Sementara itu, di kejauhan, Huo Tao memandang Lynx dengan sorot mata penuh kebencian. Setiap gerakan Lynx seolah menjadi pemicu amarahnya, dan ia terus mencari kesempatan untuk membalas dendam dan mempermalukan pria itu.

Huo Tao tidak bisa melupakan bagaimana Lynx membuatnya merasa terhina. Rasa malu yang ia alami sejak pertemuan pertama mereka belum hilang, dan kini ia bertekad untuk mencari kesempatan membalas dan mempermalukan Lynx, untuk menunjukkan bahwa dia tidak bisa dipermalukan begitu saja.

"Tidak lama lagi, semua rencana ayah akan berhasil. Seharusnya mereka sudah mulai bergerak sekarang." Batin Huo Tao.

